Langsung ke konten utama

Postingan

Masih Tentang Ruang dan Tuhan yang Sebenarnya

Beberapa teman minggu ini seringkali menghubungi saya terkait tulisan saya tentang Ruang yang menurut saya adalah Tuhan yang sebenarnya. Teman-teman saya tersebut, seolah menuntut dan menanti jawaban saya perihal tulisan tersebut. Mungkin emosi teman-teman sudah campur aduk tak karuan, karena sudah lama menunggu jawaban kepastian dari saya sampai lumut tumbuh di dinding waktu.  Kepedean  saya bukan tanpa alasan sebab tulisan saya tersebut, beberapa kali menjadi obrolan hangat di qureta melalui tanggapan-tanggapan yang baik dari teman-teman penulis. Melihat semua tanggapan teman-teman, jujur saja perasaan saya pun bercampur aduk; antara senang dan gelisah. Senang sebab artinya tulisan saya dibaca, dipahami dan ditanggapi. Saya berada di level tertinggi kebahagiaan ketika saya melihat ternyata masih ada kawan-kawan yang rela menghabiskan waktu dan tenaganya untuk membela saya. Apalagi ketika abang Ramdhany dalam Subjudul tulisannya secara jelas menuliskan “tanggapan atas...

Sekali Lagi Tentang Ruang dan Tuhan yang Sebenarnya

“Ruang adalah Tuhan yang Sebenarnya”   merupakan tulisan pertama saya di Qureta. sebuah tulisan yang sebenarnya merupakan hasil perenungan kawan-kawan diskusi saya di PIUSH. Entah apa yang menarik dari tulisan tersebut, saya tidak mengerti. Namun yang patut disyukuri dengan segelas kopi ialah fakta bahwa tulisan tersebut dibaca, dipahami, hingga kemudian ditanggapi dengan baik. Saya ucapkan terimakasih. Terlebih dahulu saya memohon kepada Tuhan yang Maha Entah (YME) agar diberi petunjuk sehingga usaha ini setidaknya dapat menjadi jawaban atas kekurangan-kekurangan pada tulisan sebelumnya. Semoga Tuhan yang menjadi inti “permasalahan” kita ini memberi taufik serta hidayahnya kepada kita semua. Sekiranya telah tertera sebelumnya bahwa, Ruang yang saya maksud bukanlah ruang pada pengertian umumnya seperti ruang makan, ruang tamu, kamar dll. Namun, Ruang yang saya sebut sebagai Ruang Kosong itu adalah ruang sebagai Genus   (جنس)  diantara segala hal. Ruang yang mewa...

Ruang adalah Tuhan yang Sebenarnya

Kebanyakan manusia umumnya memahami dan mengenal Tuhan sebagai sosok. Sosok yang dapat mengatur kehidupan. Sosok yang memiliki kekuatan melebihi dari apa dan siapapun. Dengan kehendaknya, apa yang mustahil, bahkan tidak terpikirkan sekalipun oleh manusia, dapat terjadi dengan hanya menyebut   “kun” . Dari sudut pandang psikologi agama, hal demikian bukanlah permasalahan substansial yang berarti. Mengingat corak pikir manusia memang demikian adanya. Namun dari sudut pandang itu pula kita mengetahui bahwa seiring pertumbuhan usia manusia menjadi lebih dewasa, dalam pencariannya manusia mulai akan kembali mempertanyakan sistem kebertuhanan yang selama ini dijalani. Di sinilah kebanyakan manusia menemukan pengenalan dan pemahamannya akan Tuhan. Dari yang sebelumnya selalu menggambarkan Tuhan sebagai wujud sosok yang berkekuatan dahsyat, menjadi lebih rasional sesuai dengan ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Sekiranya, ada banyak jalan untuk mengenal Tuhan seperti jalan ...

Saat Aku Menyatakan Cinta **

Aku jatuh cinta.. Aku benar-benar yakin ini cinta... Cinta sejatiku. Semua sudah kupersiapkan. Tempat, waktu, mental, dan kehadiranmu. Ya, kita telah membuat janji untuk bertemu di sekretariat organisasi tempat biasa kota bertemu. Tentu ini bukan pertemuan untuk rapat atau diskusi. Ini janji bertemu berdua, antara kamu dan aku. Ya, dalam pertemuan ini aku berencana untuk mengungkapkan sesuatu yang sangat penting. Ini adalah tentang perasaan seorang laki-laki terhadap perempuan. Sesuatu yang membuatku mempersiapkan mentalku sedemikian rupa hanya untuk bicara padamu. Ya, aku akan mengatakan cinta kepadamu. Kita sudah berhubungan dekat selama setahun terakhir. Sedari masuk kuliah, kita aktif dalam kegiatan organisasi kampus. Karena aktivitas ini, kita jadi sering bertemu dalam kegiatan-kegiatan organisasi. Meski aku sebagai kakak kelas alias senior, kita kerap adu mulut. Mulai adu mulut dalam rapat, acara, sampai pelatihan-pelatihan organisasi. Ya, rekan-rekan melihat kita sep...

Tentang Penolakanmu dulu

Malam ini, malam yang begitu dingin, angin bertiup lembut, namun bau matahari masih begitu akrab pada jendela kamar. Melupakan kekecewaan pada secangkir kopi yang malah dirayakan semut. Tepat disamping gelas terdapat satu bungkus rokok lengkap dengan korek api kayu yang biasa kugunakan. Laptop dan buku-buku belum sedikitpun kusentuh padahal niatan awalku ialah membuat suatu artikel untuk kukirimkan ke media masa. Dari dalam, tampak didepan kost jalan masih basah dengan genangan air yang menyerbu langit sore tadi. Ntah karna cuaca yang sejuk atau apa, tiba-tiba lamunanku berubah menjadi melankolis. Pikiran itu menyerang dan menusuk hati hingga membuatku menarik nafas panjang dan memejamkan mata. Wajah itu.. dengan jilbab yang menutupi rambut, mata yang tajam, kedua pipinya penuh, yang jika dipandang dari dekat maka akan tampak sosok gabungan antara Dian Sastro dan Nabilah jkt48 (oke sipp, ini lebayy). Aku masih ingat, disebuah acara OPAK, Tuhan berhasil mempertemukanku d...

Kala Kemajuan Mulai Membunuh

Dimuat di Palapanews awal dua dasawarsa terakhir abad kedua puluh, manusia menemukan dirinya berada dalam suatu krisis global yang serius, yaitu suatu krisis kompleks dan multidimensional yang segi-seginya menyentuh setiap aspek kehidupan kesehatan, mata pencaharian, kualitas lingkungan hidup, ekonomi, teknologi dan politik. Krisis ini merupakan krisis dalam dimensi-dimensi intelektual, moral dan spiritual. Tentunya ini krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam catatan sejarah manusia. Untuk pertama kalinya, manusia dihadapkan pada ancaman kepunahan ras manusia yang nyata. Awal tahun ini, dunia dihebohkan dengan nuklir, mulai dari tes nuklir Korea Utara, hingga yang paling baru mengenai perjanjian nuklir Iran. Tak hanya itu, Fenomena terorisme belakangan oleh banyak kalangan pun disebut sebagai penyebab krisis dari aspek teknologi penghancur seperti senjata, bom dan nuklir. Namun, terorisme tersebut hanyalah secuil bukti dari ancaman teknologi penghancur yang dapat...

Simpuh

Mencoba hilangkan rasa tanpa arti Berharap tanpa bayang mu dalam waktu Namun ternyata samar pun tak mampu Inilah aku yang terlalu rentan menyayangi Mengapa ku harus bersimpuh Untuk hal yang tak dapat ku sentuh.. Tangan ini terlalu kecil untuk menggapai mu yang terlalu tinggi Mungkinkah kau terlalu putih untuk ku angan..??? Ciputat, 13-3-2016